Selain membedakan novel berdasarkan jenis cerita, novel juga dibedakan dari umur target pembacanya. Umumnya, dibagi mejadi novel remaja (young adult) atau novel dewasa (adult). Perbedaan umur pembaca ini perlu diperhatikan dalam membuat cerita karena karakter keduanya yang berbeda.

Apalagi, jika ingin membuat cerita yang relatable bagi pembaca remaja. Tentunya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar novel kita bisa menjadi buah bibir di kalangan remaja.

Tips Menulis Novel Remaja

Berikut ini 5 hal yang bisa dilakukan agar cerita novel kita bisa menarik dan relatable bagi pembaca remaja:

1. Lakukan riset terhadap target pembaca novelmu

Kita perlu mencari tahu siapa target pembaca kita, mulai dari umur, tempat tinggal, kegiatan yang mereka lakukan, apa yang mereka sukai, hingga kebiasaan yang mereka miliki. Dengan begitu, kita bisa membuat cerita yang sesuai berdasarkan apa yang dekat dengan mereka sehingga menjadi relatable dan menarik.

Kalau mendengar kata “riset”, mungkin yang terpikirkan adalah mahal dan ruwet. Ternyata, ada cara mudahnya, lho! Kamu bisa baca tips tentang cara riset dalam menulis novel di sini.

2. Pastikan karakter novel memiliki umur yang sesuai

Untuk membuat novel yang relatable, tentunya kita perlu membuat karakter dengan umur yang sesuai dengan pembaca. Umumnya, pembaca novel remaja (young adult) berumur sekitar 15 – 23 tahun.

Selain itu, tentukan point of view (POV) yang tepat. Hindari membuat karakter orang dewasa yang melihat kembali masa remaja mereka karena akan muncul perspektif dan kebijakan orang dewasa yang mungkin tidak bisa relate dengan pembaca remaja.

3. Cari tahu masalah apa yang dialami remaja di masa sekarang

Masalah yang dialami oleh remaja di masa sekarang bisa saja berbeda dengan apa yang kita pernah alami saat remaja. Karena itu, kita perlu mencari tahu masalah apa yang dialami oleh remaja di masa sekarang agar cerita yang kita tuliskan bisa relate dengan kehidupan mereka.

Selain riset melalui internet, coba untuk berinteraksi dengan anak-anak remaja yang akan menjadi target pembaca kita. Pelajari pandangan dan perspektif mereka serta cara mereka menghadapi dan menyelesaikan masalah.

4. Gunakan gaya penulisan dan diksi yang tepat

Gaya penulisan yang terlalu kaku akan membuat cerita kita kurang menarik bagi para remaja. Coba untuk memakai gaya penulisan yang lebih santai dan “anak muda”. Bayangkan bagaimana seorang remaja bertutur kata dan berperilaku, tentunya berbeda dengan orang dewasa.

Penggunaan kata nonbaku dan kata gaul juga bisa digunakan. Hindari kata-kata yang kurang familiar bagi remaja. Misalnya, gunakan kata “arti” untuk menggantikan kata “definisi”. Dengan begitu, para pembaca remaja tidak merasa bingung dan tertarik untuk terus membaca.

5. Perhatikan kata-kata dan konteks yang perlu disensor

Menulis untuk pembaca remaja butuh perhatian ekstra terkait pemilihan kata serta konteks cerita. Tidak hanya film saja yang punya sensor, buku pun juga punya sensor untuk pembaca di bawah umur. Kita tidak bisa seenaknya menggunakan kata-kata kasar dan kotor dalam novel remaja.

Tuliskan Naskah Novelmu di Gramedia Writing Project!

Sudah mendapatkan inspirasi untuk menulis novel remaja yang menarik dan relatable? Langsung tuliskan naskahmu di GWP! Naskahmu akan dibaca oleh ribuan pengguna GWP. Serunya lagi, naskahmu juga bisa dibaca oleh editor Gramedia dan berkesempatan untuk diterbitkan, lho!

Leave a Reply

Your email address will not be published.